Halaman Baru

Sabtu, 27 Februari 2010

SEJARAH BANYUBIRU PASURUAN

Sejarah Pemandian Alam Banyu Biru (Telaga Wilis) Pasuruan
Para pedagang yang datang dari semenanjung Arab banyak menimbulkan perubahan dan peradaban baru di tanah air kita khususnya kerajaan Majapahit pada waktu itu. Agama islam yang di bawanya serta cepat sekali meresab dalam hati rakyat terutama rakyat kecil yang pada mulanya selalu hidup dalam lingkungan kasta dan perbedaan sesial lainnya. Pelan tapi pasti kerajaan Majapahit yang dulu di bangun dengan menelan korban harta dan jiwa mulai memudar cahayanya.
Selain disebabkan oleh pengaruh agama islam terdapat pula factor lain yang mempercepat keruntuhan yaitu terpecah belahnyapersatuan diantara pemimpin oleh seorang perwira Majapahit yang telah memeluk agama Islam yaitu Raden Patah lambat laun menampakkan kewibaannya.
Majapahit hancur berantakan, sebagian besar rakyatnya ikut memeluk agama
nenek moyangnya. Mereka banyak yang melarikan diri kedaerah lain. Tempat
lainnya yang menjadi daerah pelariannya yaitu disebelah selatan kabupaten
Pasuruan, sekarang orang mengenalnya dengan daerah Tengger.
Diantara sekian banyak pelarian dari Majapahit itu terdapat dua orang bekas
prajurit Majapahit yang terdampar disebuah hutan yang sekarang lebih terkenal
dengan nama desa Sumberejo, kecamatan Winongan kabupaten Pasuruan. Dua
orang tersebut masing-masing bernama KEBUT dan TOMBRO.
Hutan itu mereka babat untuk di jadikan daerah pemukiman baru. Oleh
kerena pada saat itu banyak sekali tumbuhan pohon pinang maka daerah baru itu
lebih terkenal dengan nama Jambaan ( Jambe = pinang, jawa ). Sampai sekarang
nama jambaan masih ada dan menjadi salah satu pendukuhan desa Sumberejo.
Dua orang bekas prajurit itu hidup dengan tenang dan untuk makannya
sehari-hari mereka mengelola tanah. Selain hidup bertani Kebut juga membuka
bengkel pandai besi. Sejak dulu dia memang terkenal sebagai empu yang mahir
dalam membuat keris dan senjata tajam lainnya, barang peninggalannya yang berupa
paron masih dapat disaksikan dan terletak disebelah makamnya yang terdapat dalam
komplek pemandian Banyu Biru. Sedangkan tombro yang hanya bertani saja tapi
namanya lebih menonjol daripada kebut.
Pada suatu hari kerbau peliharaan Tombro dilepas dari kandangnya. Sebagai
mana kebiasaan setiap hari. Kedua ekor kerbau itu mencari makan sendiri tanpa
ditemani oleh tuannya maupun gembala yang seharusnya mengawasinya.

Begitulah kebiasaannya kalau kebetulan bintang-bintang itu tidak
dipekerjakan disawah. Sore harinya pulang kekandang yang berdiri di belakang
rumah pemiliknya. Tetapi pada hari itu ketika Tombro hendak menutup pintu
kandang ternyata tidak melihat batang hdung kerbau-kerbaunya. Bergegaslah dia
berangkat mencari ke hutan yangada disekitar desanya. Tidak begitu sulit
mencarinya sebab dia melacak berdasarkan telapak kaki kerbaunya. Ternyata kedua
ekor kerbau itu sedang asyik berkubang disebuah kolam kecil yang tidak pernah di
ketahuinya Tombro berteriak-teriak agar hewan-hewan peliharaannya itu bangkit
dan pulang kekandang .
Rupanya kerbau itu tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya Tombro
mendekat dan Tombro agak terkejut sebab kerbau-kerbau itu ternyata telah
terperangkap dalam lumpur. Segera dipetiknya empat lembar daun keladi yang
banyak tumbuh di sekitarnya. Keempat daun itu dia hamparkan didepan kedua ekor
kerbau itu. Sekali lagi Tombro membentaknya tampak kedua ekor kerbau itu
bergerak dan ujung kakinya menggapai daun keladi lalu tiba-tiba bangkit dan keluar
dari kubungan. Hewan-hewan itu lari terbirit-birit pulang kekandangnya.
Sepeninggal hewan-hewan peliharaannya Tombro berdiri sejenak dipinggir
kolam kecil itu. Di pandangnya kolam itu dan kini dia tidak lagi menyaksikan
lumpur yang keruh tapi sebuah kolam yang penuh dengan air yang jernih
sehinggadasarnya yang berpasir itu kelihatan nyata. Bahkan disela-selah ranting
yang berada didasar kolam tampak dua ekor ikan sengkaring sedang asyik berenang
kian kemari. Menurut cerita dari masyarakat kedua ekor ikan itu lambat laun
berkembang biak hingga sekarang. Pengunjung pemandian yang kebetulan datang
dapat menyaksikan ikan-ikan itu, jumlahnya telah berlipat ganda dan berenang kian
kemari seolah-olah berlomba dengan para pengunjung pemandian yang sedang
mandi. Dari jernihnya air dasar pasir bebatuan sehingga airnya kelihatan biru.
Dengan ditemukannya kolam ajaib itu maka penduduk jambaan banya datang
menyaksikannya. Sejak itu para penduduk memeliharanya dengan baik. Dan kolam
tersebut dinamakan Banyu Biru.
Kabar tentang ditemukannya kolam aneh itu sempat didengar oleh Bupati
Pasuruan yang bernama Raden Adipati Nitiningrat. Bersama-sama seorang pembesar
belanda yang bernama P.W Hopla ( sesuai dengan prasasti yang tertulis dengan
huruf jawa ) kedua orang itu ikut pula menyaksikannya. Kolam itu kemudian
dibangun oleh pemerintah Belanda dengan nama Telaga Wilis. Telaga ini dibangun
terus oleh orang-orang belanda dijadikan pemandian umum. Untuk memperindah
pemandian ini dibuat taman-taman bunga dan dilegkapi dengan berjenis-jenis patung
yang diambil dari Singosari Malang.
Selain memelihara kerbau Tombro juga memelihara kera. Setelah wafat pak
Tombro dimakamkan didekat pemandian dan kera-kera itu berkembang biak hingga
beratus-ratus ekor.
Pada waktu pendudukan Jepang kera-kera itu habis ditembaki dan sisanya
menyingkir kehutan di dekat desa Umbulan yang terkenal dengan sumber air
minumnya.

Sedangkan cerita pak Kebut tidak banyak dibicarakan orang karena dia
hanya menekuni pekerjaannya sebagai pembuat alat pertanian. Dia dimakamkan
berjajar dengan makam istrinya yang bernama mbok Kipah. Dipinggir kolam renang
lama disebelah utara tiap hari Jum’at orang-orang Tosari banyak berziarah kemakam
tersebut. Menurut cerita penduduk setempat setiap ada orang yang berusaha
memindahkan paron yang berada didekat makamnya meka keesokan harinya paron
itu akan kembali ketempat asalnya.

Kira-kira pada tahun 1980 patung-patung yang banyak bersejarah ditaman
pemandian itu dikumpulkn disatu tempat dan dilindungi oleh seksi Kebudayaan

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pasuruan. Tempat itu berada
didalam kompleks pemandian yang sekarang lebih terkenal dengan nama Banyu
Biru .

Letak Geografis : Jarak dari kota kurang lebih 20 Km
Luas wilayah Banyu Biru kurang lebih 4 hektar
Wilayah desa Sumber Rejo
Kecamatan Winongan Kabupaten Pasuruan.
Kera – kera yang di pelihara oleh penemu Banyu Biru ( P. tombro ) berkembang biak hingga beratus – ratus ekor. Pada waktu pendudukan Jepang kera-kera itu habis ditembaki dan sisanya menyingkir kehutan di dekat desa Umbulan yang terkenal dengan sumber air minumnya.
Banyu Biru 1920
Prasasti – prasasti tersebut terdiri atas 11 buah patung antara

lain :

1. 1 volkaning dari pemda Kabupaten Pasuruan dengan bahasa Belanda bertahun 1921

2. 1 prasasti bahasa dan huruf jawa tahun 1847

3. 1 patung betara siwa dengan membawa senjata trisula

4. 1 patung ganesya

5. 1 patung 2 ekor naga berbelit dan lain – lainnya yang kami sendiri tak bisa
Terdapat prasasti tertulis diatas batu pualam dengan huruf jawa yang berbunyi :

Telaga Wilis

Rinenggo winangun arja, dening tuan pawalopean. Manulyo tusdhani prasamya
nalika, panjenengane Kanjeng Adipati Nitiadi Ningrat singkalan “ Wisayaning panditha kaloking nat ” . Utawi tahun – tahun Weladeni 1847
Ø Air yang ada di banyu Biru adalah air sumber dan ceritanya setiap hari Jum’at
legi orang yang mandi dan berendam disana akan awet muda dan mendatangkan
berkah.
Ø Pada hari raya ketupat bila datang ke Banyu Biru untuk menabur uang logam

ketelang ( bagian terdalam / tempat sumber ) dan segenggam ketupat serta

nyadran ( selamatan ) di makam raja kera dapat membuang sangkal atau

kesialan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar